Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan
Membuat Nilai Tambah dalam Bisnis
Serba SerbiDalam bisnis ini kita harus selalu mempunyai nilai tambah, sebetulnya nilai tambah itu secara garis besar di bagi tiga. Anda hanya bisa ambil dua , jarang sekali anda bisa tiga tiganya. Ini saya ambil dan belajar dari Michael Tracy bagaimana ”Double Digit Grow”.
Ini buku yang sangat bagus dan bagaimana kita tumbuh dua kali lipat. Dia cerita tentang IBM dan perusahaan yang tumbuhnya cuma dua sekian persen tapi ada juga yang 11% dan 20%,dan terus tumbuh. Dan ada Jhonson n jhonson yang tumbuh selama 59 tahun bisnis nya terus tumbuh dan tumbuh terus. Dan saya pun masih terus harus belajar, disini dikatakan oleh Michael Tracy ada tiga keunggulan bisnis.
Ini buku yang sangat bagus dan bagaimana kita tumbuh dua kali lipat. Dia cerita tentang IBM dan perusahaan yang tumbuhnya cuma dua sekian persen tapi ada juga yang 11% dan 20%,dan terus tumbuh. Dan ada Jhonson n jhonson yang tumbuh selama 59 tahun bisnis nya terus tumbuh dan tumbuh terus. Dan saya pun masih terus harus belajar, disini dikatakan oleh Michael Tracy ada tiga keunggulan bisnis.
Satu adalah murah, anda dengan operasional yang paling ringkes dan paling efisien anda bisa murah. Bisa seperti toko buku saya, satu keunggulannya adalah murah, parkir gratis dan segala macam yang lainnya, yang kedua keunggulan berikutnya adalah unggul dalam mutu produk – produk anda, dahsyat luar biasa , mutunya lebih baik di banding yang lain, yang ketiga adalah servisnya atau pelayanannya. Hanya tiga menurut dia dan servis itu termasuk kecepatan..
Action Plan :
- Apa nilai tambah Perusahaan Anda?
- Bagaimana di banding dengan Perusahaan kompetitor?
- Buat nilai tambah yang dapat meningkatkan penjualan
Demikian dari Saya, Jika Anda ingin mendapatkan informasi lebih banyak lagi, Anda bisa mendapatkannya secara Gratis sebuah eBook TDW University – Business Session karya mentor Saya Tung Desem Waringin sebuah panduan untuk meningkatkan kekayaan Anda. Segera klik TDW Mastery,
Anda bisa mendapatkannya di sini : http://bit.ly/bukumotivasigratis
PRODUK NASA MERAMBAH NEGARA TETANGGA
Serba SerbiHal itu tercermin dari kunjungan 2 (dua) delegasi Malaysia dalam satu bulan terakhir. Kunjungan yang pertama dari Johor sudah diwartakan dalam Up Date info beberapa waktu yang lalu, sedangkan kunjungan yang kedua dilakukan pada tanggal 15 – 16 Mei. Kunjungan kali ini dilakukan oleh Direksi dan staf yang berjumlah empat orang dari Megamultiway Sdn Bhd. dari Alor Setar, Kedah yang bergerak dibidang konstruksi khususnya untuk pembangunan infrastruktur pertanian.
Agenda kunjungan kali ini adalah bertemu dengan Bapak Direktur Utama NASA, Bapak Ir. Hana Indra Kusuma, MP, yang memberikan wawasan teknologi organic NASA, serta dengan General Manager NASA, Bapak Gunawan Budiharjo, SE yang membicarakan potensi dan peluang bisnis NASA di Malaysia. Selama pembicaraan berlangsung, para delegasi bisnis negeri jiran tersebut didampingi oleh Leader Bapak Wahyu Juliarso dan Bapak Suryono Aji.
Selain berkunjung di Kantor Pusat, para tamu tersebut juga melihat laboratorium lahan pasir Pandansimo yang semakin membuat mereka kagum dan yakin akan kualitas produk NASA. Tidak lupa saat pulang, mereka membawa sejumlah produk NASA untuk diaplikasikan di Malaysia.
NASA GO INTERNASIONAL…
Mari Duduk Bersama Dan Membuka Hati
Serba SerbiPertanian adalah nadi kehidupan manusia. Di sektor itulah ketersediaan pangan manusia digarap. Di tengah ingar-bingar isu perubahan iklim, dampaknya terhadap pertanian secara langsung akan mengancam kehidupan manusia apabila tak segera disikapi dengan laku adaptif.
Perubahan wajah pertanian Indonesia dapat diamati dari potret pertanian sejak tahun 1970-an hingga sekarang, seperti tertuang dalam buku Membaca Jejak Perubahan Iklim (Civil Society Forum, 2009).
Pertanian yang semula dihidupi oleh sentuhan local genius (kearifan lokal) secara perlahan tapi pasti bergeser cirinya seiring perkembangan ekonomi Indonesia yang ”menjeratkan diri” pada tatanan global.
Pertanian yang semula banyak diurus oleh rakyat dengan tatanan kulturalnya sendiri, pada tahun 1970-an mulai diperkenalkan pada sentuhan modernisasi yang berpuncak pada Revolusi Hijau. Hasilnya menakjubkan: Indonesia menjadi negara dengan swasembada beras di tahun 1985-1988 (Membaca Jejak Perubahan Iklim, 2009).
Ketika warisan leluhur menghilang, datanglah ”musuh” baru berupa perubahan iklim yang semakin mengguncang keteraturan masa tanam dan berujung pada menurunnya produksi.
Dampak ikutannya adalah mengeringnya lahan pertanian secara luas, yang bisa diikuti dengan ancaman bencana kelaparan yang meluas di Asia, terutama di negara-negara berkembang. (Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability, Intergovernmental Panel on Climate Change 2007).
Salah satu penyebab
Bukan hanya tertimpa dampak perubahan iklim, pertanian sebenarnya merupakan salah satu penyebab perubahan iklim.
Aktivitas pertanian rupanya menyumbang sekitar 20% gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Gas rumah kaca ini bertanggung jawab pada pemanasan global. Adapun pemanasan global bertanggung jawab terhadap perubahan iklim.
Sektor pertanian memproduksi sekitar 50% gas metana (CH) dan 70 % nitro oksida (NO)—dua dari enam gas rumah kaca dari aktivitas manusia (Technologies, Policies and Measures for Mitigating Climate Change, Intergovernmental Panel on Climate Change, November 1996). Dalam percaturan global, pertanian di negara maju yang telah padat teknologi dapat menyumbang pengurangan emisi CO sebanyak 40%. Produksi biofuel dari perkebunan di negara-negara maju dapat memberikan kontribusi sebesar 32%.
Untuk emisi CH, dengan meningkatkan teknologi pertanian padi, negara-negara maju yang diwajibkan mengurangi emisinya (Annex I) bisa mengurangi emisi global CH 5%.
Pengurangan emisi NO dari pertanian di negara maju bisa mencapai 30% jika penggunaan pupuk nitrogen dikurangi atau dilakukan secara lebih efisien.
Berkaca dari hal-hal di atas, yang dituliskan Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)—IPCC adalah pihak yang bertanggung jawab secara ilmiah tentang perubahan iklim—Indonesia rasanya tak harus buru-buru menjawab dampak perubahan iklim di sektor pertanian.
Kajian dari berbagai segi: teknis, klimatologis, sosiologis, dan kultural mendesak dilakukan. Untuk itu, semua pemangku kepentingan perlu duduk bersama (tentu) sambil membuka hati....
Perubahan wajah pertanian Indonesia dapat diamati dari potret pertanian sejak tahun 1970-an hingga sekarang, seperti tertuang dalam buku Membaca Jejak Perubahan Iklim (Civil Society Forum, 2009).
Pertanian yang semula dihidupi oleh sentuhan local genius (kearifan lokal) secara perlahan tapi pasti bergeser cirinya seiring perkembangan ekonomi Indonesia yang ”menjeratkan diri” pada tatanan global.
Pertanian yang semula banyak diurus oleh rakyat dengan tatanan kulturalnya sendiri, pada tahun 1970-an mulai diperkenalkan pada sentuhan modernisasi yang berpuncak pada Revolusi Hijau. Hasilnya menakjubkan: Indonesia menjadi negara dengan swasembada beras di tahun 1985-1988 (Membaca Jejak Perubahan Iklim, 2009).
Ketika warisan leluhur menghilang, datanglah ”musuh” baru berupa perubahan iklim yang semakin mengguncang keteraturan masa tanam dan berujung pada menurunnya produksi.
Dampak ikutannya adalah mengeringnya lahan pertanian secara luas, yang bisa diikuti dengan ancaman bencana kelaparan yang meluas di Asia, terutama di negara-negara berkembang. (Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability, Intergovernmental Panel on Climate Change 2007).
Salah satu penyebab
Bukan hanya tertimpa dampak perubahan iklim, pertanian sebenarnya merupakan salah satu penyebab perubahan iklim.
Aktivitas pertanian rupanya menyumbang sekitar 20% gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Gas rumah kaca ini bertanggung jawab pada pemanasan global. Adapun pemanasan global bertanggung jawab terhadap perubahan iklim.
Sektor pertanian memproduksi sekitar 50% gas metana (CH) dan 70 % nitro oksida (NO)—dua dari enam gas rumah kaca dari aktivitas manusia (Technologies, Policies and Measures for Mitigating Climate Change, Intergovernmental Panel on Climate Change, November 1996). Dalam percaturan global, pertanian di negara maju yang telah padat teknologi dapat menyumbang pengurangan emisi CO sebanyak 40%. Produksi biofuel dari perkebunan di negara-negara maju dapat memberikan kontribusi sebesar 32%.
Untuk emisi CH, dengan meningkatkan teknologi pertanian padi, negara-negara maju yang diwajibkan mengurangi emisinya (Annex I) bisa mengurangi emisi global CH 5%.
Pengurangan emisi NO dari pertanian di negara maju bisa mencapai 30% jika penggunaan pupuk nitrogen dikurangi atau dilakukan secara lebih efisien.
Berkaca dari hal-hal di atas, yang dituliskan Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)—IPCC adalah pihak yang bertanggung jawab secara ilmiah tentang perubahan iklim—Indonesia rasanya tak harus buru-buru menjawab dampak perubahan iklim di sektor pertanian.
Kajian dari berbagai segi: teknis, klimatologis, sosiologis, dan kultural mendesak dilakukan. Untuk itu, semua pemangku kepentingan perlu duduk bersama (tentu) sambil membuka hati....
Artikel di ambil dari : http://www.beonex.co.id/article.php?id=35
Pupuk Organik
Serba SerbiPupuk Organik Yang Banyak Manfaatnya.
Mahalnya harga pupuk kimia nonsubsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi di beberapa daerah di Sumatera Utara, seperti Serdang Bedagai, Simalungun, Toba Samosir, dan Tapanuli Utara, membuat petani daerah tersebut mulai beralih menggunakan pupuk organik. Mereka mengaku bisa mengurangi pengeluaran.
Pusat Koperasi Kredit Sumatera Utara yang memiliki 280.000 orang telah memprogramkan pelatihan penggunaan pupuk organik.
Menurut Pelaksana Manajer Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Sumatera Utara (Sumut) Robinson Bakara, hampir 60 persen anggota Puskopdit Sumut adalah petani. Mereka adalah orang yang paling terpukul akibat menghilangnya pupuk bersubsidi. Di sisi lain, pupuk kimia nonsubsidi, lanjut Robinson, selain harganya tak terjangkau petani biasa, juga sulit ditemukan di pasaran.
”Sekarang kami mulai menganjurkan petani untuk menggunakan pupuk organik. Sebanyak 21 koperasi kredit atau credit union di Sumatera Utara, yang tersebar mulai dari Karo, Humbang Hasundutan, Simalungun, hingga Tapanuli Utara, kami jadikan proyek percontohan untuk penggunaan pupuk bersubsidi,” papar Robinson, Jumat (20/6) di Siborongborong, Tapanuli Utara.
Robinson mengatakan, menghilangnya pupuk bersubsidi dan mahalnya harga pupuk nonsubsidi membuat Puskopdit Sumut ikut menanggung akibatnya.
”Petani anggota kami kan mengambil kredit untuk membeli sarana produksi. Mahalnya harga pupuk nonsubsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi dari pasaran membuat mereka tak lagi bisa bertani. Ini membuat petani tak bisa lagi mengembalikan pinjaman ke koperasi,” tuturnya.
Di Siborongborong, pupuk organik mulai digunakan petani jeruk. Netty Sianipar, petani jeruk di Desa Lobu Tua, Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara, telah satu tahun menggunakan pupuk organik. Menurut Netty, dia mulai menggunakan pupuk organik setelah mendapat pelatihan di Puskopdit Sumut.
Netty yang merupakan anggota Koperasi Kredit Satolop Siborongborong mengaku banyak merasakan manfaatnya setelah menggunakan pupuk organik.
”Manfaat yang jelas saya rasakan adalah ongkos produksi yang berkurang drastis. Jika menggunakan pupuk kimia, saya harus mengeluarkan uang sampai Rp 15 juta untuk mendapatkan 1,5 ton pupuk NPK. Dengan pupuk organik sebanyak 1,5 ton yang memiliki kandungan sama dengan NPK, saya paling harus mengeluarkan Rp 2,4 juta untuk ongkos pembuatannya,” kata Netty.
Dia kini telah mendapatkan manfaat dari sekali panen jeruknya tahun ini. Menurut Netty, panen jeruk biasa dia lakukan dua kali dalam setahun. Dari hasil panen setelah menggunakan pupuk organik, ada peningkatan produksi sekitar 20 persen.
”Kalau dulu dengan pupuk kimia, hasil panen jeruk untuk lahan seluas satu hektar 50 ton. Sekarang dengan pupuk organik, satu hektar bisa menghasilkan 60 ton jeruk,” katanya.
Netty mengungkapkan, perubahan fisik paling mencolok setelah dia menggunakan pupuk organik adalah tekstur tanaman. Saat menggunakan pupuk kimia, setelah pemupukan tekstur tanah mengeras dan dia harus kembali menggemburkan tanah jika mau melakukan pemupukan lagi. Kini, dengan menggunakan pupuk organik, tekstur tanah, lanjut Netty, bisa gembur sendiri.
”Hal ini tentu mengurangi pekerjaan,” katanya.
Pelatihan pemakaian pupuk organik yang dilakukan Puskopdit Sumut, kata Robinson, meliputi cara pembuatan hingga mempersiapkan pemasaran produk pertanian organik. Robinson mengatakan, Puskopdit Sumut masih cukup kesulitan mengubah tradisi petani menggunakan pupuk kimia ke pupuk organik.
”Kesulitannya karena petani sudah sangat tergantung menggunakan pupuk kimia. Belum lagi mereka juga masih khawatir bagaimana memasarkan hasil pertanian organik mereka,” katanya.
Namun, Robinson yakin bakal semakin banyak petani di Sumut yang menggunakan pupuk organik.
”Dua tahun terakhir, pupuk kimia nonsubsidi harganya semakin mahal, sementara pupuk bersubsidi menghilang di pasaran. Satu-satunya cara petani bisa kembali melakukan aktivitasnya ya dengan menggunakan pupuk organik,” ujarnya.
Pupuk organik dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik, antara lain, adalah pupuk kandang, kompos, gambut, rumput laut, dan guano.
Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang, seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu, ke dalam golongan pupuk organik.
Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik, misalnya, adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan.
Pupuk organik cair, antara lain, adalah ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, dan fermentasi tumbuh-tumbuhan. Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. (BIL)
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/00362544/petani.beralih.ke.pupuk.organik
Pusat Koperasi Kredit Sumatera Utara yang memiliki 280.000 orang telah memprogramkan pelatihan penggunaan pupuk organik.
Menurut Pelaksana Manajer Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Sumatera Utara (Sumut) Robinson Bakara, hampir 60 persen anggota Puskopdit Sumut adalah petani. Mereka adalah orang yang paling terpukul akibat menghilangnya pupuk bersubsidi. Di sisi lain, pupuk kimia nonsubsidi, lanjut Robinson, selain harganya tak terjangkau petani biasa, juga sulit ditemukan di pasaran.
”Sekarang kami mulai menganjurkan petani untuk menggunakan pupuk organik. Sebanyak 21 koperasi kredit atau credit union di Sumatera Utara, yang tersebar mulai dari Karo, Humbang Hasundutan, Simalungun, hingga Tapanuli Utara, kami jadikan proyek percontohan untuk penggunaan pupuk bersubsidi,” papar Robinson, Jumat (20/6) di Siborongborong, Tapanuli Utara.
Robinson mengatakan, menghilangnya pupuk bersubsidi dan mahalnya harga pupuk nonsubsidi membuat Puskopdit Sumut ikut menanggung akibatnya.
”Petani anggota kami kan mengambil kredit untuk membeli sarana produksi. Mahalnya harga pupuk nonsubsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi dari pasaran membuat mereka tak lagi bisa bertani. Ini membuat petani tak bisa lagi mengembalikan pinjaman ke koperasi,” tuturnya.
Di Siborongborong, pupuk organik mulai digunakan petani jeruk. Netty Sianipar, petani jeruk di Desa Lobu Tua, Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara, telah satu tahun menggunakan pupuk organik. Menurut Netty, dia mulai menggunakan pupuk organik setelah mendapat pelatihan di Puskopdit Sumut.
Netty yang merupakan anggota Koperasi Kredit Satolop Siborongborong mengaku banyak merasakan manfaatnya setelah menggunakan pupuk organik.
”Manfaat yang jelas saya rasakan adalah ongkos produksi yang berkurang drastis. Jika menggunakan pupuk kimia, saya harus mengeluarkan uang sampai Rp 15 juta untuk mendapatkan 1,5 ton pupuk NPK. Dengan pupuk organik sebanyak 1,5 ton yang memiliki kandungan sama dengan NPK, saya paling harus mengeluarkan Rp 2,4 juta untuk ongkos pembuatannya,” kata Netty.
Dia kini telah mendapatkan manfaat dari sekali panen jeruknya tahun ini. Menurut Netty, panen jeruk biasa dia lakukan dua kali dalam setahun. Dari hasil panen setelah menggunakan pupuk organik, ada peningkatan produksi sekitar 20 persen.
”Kalau dulu dengan pupuk kimia, hasil panen jeruk untuk lahan seluas satu hektar 50 ton. Sekarang dengan pupuk organik, satu hektar bisa menghasilkan 60 ton jeruk,” katanya.
Netty mengungkapkan, perubahan fisik paling mencolok setelah dia menggunakan pupuk organik adalah tekstur tanaman. Saat menggunakan pupuk kimia, setelah pemupukan tekstur tanah mengeras dan dia harus kembali menggemburkan tanah jika mau melakukan pemupukan lagi. Kini, dengan menggunakan pupuk organik, tekstur tanah, lanjut Netty, bisa gembur sendiri.
”Hal ini tentu mengurangi pekerjaan,” katanya.
Pelatihan pemakaian pupuk organik yang dilakukan Puskopdit Sumut, kata Robinson, meliputi cara pembuatan hingga mempersiapkan pemasaran produk pertanian organik. Robinson mengatakan, Puskopdit Sumut masih cukup kesulitan mengubah tradisi petani menggunakan pupuk kimia ke pupuk organik.
”Kesulitannya karena petani sudah sangat tergantung menggunakan pupuk kimia. Belum lagi mereka juga masih khawatir bagaimana memasarkan hasil pertanian organik mereka,” katanya.
Namun, Robinson yakin bakal semakin banyak petani di Sumut yang menggunakan pupuk organik.
”Dua tahun terakhir, pupuk kimia nonsubsidi harganya semakin mahal, sementara pupuk bersubsidi menghilang di pasaran. Satu-satunya cara petani bisa kembali melakukan aktivitasnya ya dengan menggunakan pupuk organik,” ujarnya.
Pupuk organik dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik, antara lain, adalah pupuk kandang, kompos, gambut, rumput laut, dan guano.
Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang, seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu, ke dalam golongan pupuk organik.
Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik, misalnya, adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan.
Pupuk organik cair, antara lain, adalah ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, dan fermentasi tumbuh-tumbuhan. Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. (BIL)
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/00362544/petani.beralih.ke.pupuk.organik
Langganan:
Postingan (Atom)
